Budi Daya Kroto di Musim Penghujan–Berkah atau Bencana?

 budidaya kroto, usaha budidaya kroto, buku budidaya kroto, pelatihan budidaya kroto, budidaya kroto modern

Musim penghujan telah tiba. Kini hampir seluruh darah di Indonesia telah diguyur hujan, setelah penantian panjang selama beberapa bulan lamanya. Nah, pertanyaanya apakah pergantian musim dari musim kemarau ke musim penghujan ini berpengaruh terhadap budi daya kroto? Pertannyaan ini sulit untuk dijawab. Namun demikian, ada beberapa hal yang patut Anda ketahui ketika menghadapi pergantian musim ini.

Perlu Anda ketahui bahwa semut rangrang sangat menyukai tempat yang sejuk dan udara yang sejuk. Maka dari itu pergantian musim ini bisa menjadi berkah sekaligus juga bencana tersendiri bagi budi daya kroto. Sebab, ketika sejak beberapa bulan lalu semut rangrang harus bertahan di tengah-tengah musim kemarau, dan kini tiba musim hujan, berdasarkan pengamatan penulis, produktifitas semut rangrang dalam menghasilkan kroto menurun. 

Semua itu terjadi–selain karena perubahan cuaca–juga karena kroto sedang menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan cuaca yang baru–dan selain itu juga semut rangrang sedang mengalami masa perubahan. Perubahan yang dimaksud adalah munculnya telur calon ratu yang ukurannya jauh lebih besar dari kroto biasanya. Bersamaan dengan itu, muncul juga semut rangrang pejantan yang warnanya agak kehitam-hitaman.

Fenomena itu sangatlah wajar, dan sebenarnya bukanlah hal baru. Tetapi, bagi Anda yang baru saja memulai budi daya kroto, bertannya-tanya kenapa terjadi seperti itu. Nah, jika Anda melihat fenomena perubahan tersebut, janganlah kaget, karena sesungguhnya perubahan tersebut menunjukkan bahwa semut rangrang sedang dalam masa perkawinan. Karena masa kawin, maka wajar jika produksi krotonya menurut. Nah, ketika musim penghujan tiba, maka semut rangrang akan kembali normal, bahkan produksi krotonya bisa dua kali lipat lebih banyak bila dibandingkan ketika musim kemarau. 

.